ExxonMobil

Bahlil Dukung Perpanjangan Kerja Sama ExxonMobil Di AS

Bahlil Dukung Perpanjangan Kerja Sama ExxonMobil Di AS
Bahlil Dukung Perpanjangan Kerja Sama ExxonMobil Di AS

JAKARTA - Pada awal 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjadi salah satu tokoh kunci dalam lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat (AS). 

Dalam lawatan tersebut, Bahlil membawa misi strategis yang melibatkan perpanjangan kerja sama dengan perusahaan energi raksasa, ExxonMobil. 

Salah satu tujuan utama dari perjalanan ini adalah memastikan keberlanjutan pengelolaan Blok Cepu yang melibatkan ExxonMobil, dengan harapan bisa memperkuat hubungan Indonesia-AS di sektor energi.

Perpanjangan Kerja Sama Dengan ExxonMobil

Bahlil Lahadalia, yang mendampingi Presiden Prabowo dalam perjalanan ke AS, membawa berbagai agenda penting, salah satunya adalah memastikan agar kerjasama dengan ExxonMobil dalam pengelolaan Blok Cepu terus berlanjut. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa salah satu fokus utama Bahlil adalah memperpanjang kontrak kerja sama yang sudah ada, terutama terkait dengan pengelolaan Blok Cepu di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Banyak agenda yang dibawa oleh Menteri Bahlil dalam kunjungan ini, dan salah satunya adalah memastikan kerja sama ExxonMobil di Blok Cepu dapat terus dilanjutkan,” ungkap Laode Sulaeman.

Hal ini tentu menjadi hal penting, mengingat Blok Cepu adalah salah satu blok minyak terbesar yang memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi energi nasional Indonesia.

Peran ExxonMobil di Blok Cepu

ExxonMobil Cepu Limited, yang berbasis di Texas, Amerika Serikat, memegang 45 persen hak partisipasi dalam pengelolaan Blok Cepu, sementara sisa hak partisipasi dimiliki oleh PT Pertamina EP Cepu dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Blok Cepu terletak di dua provinsi, yakni Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan daerah operasi yang meliputi Kabupaten Blora, Bojonegoro, dan Tuban. 

Proyek ini menjadi sangat penting, mengingat pada 2025, produksi Blok Cepu diperkirakan dapat mencapai antara 170.000 hingga 180.000 barel per hari, yang tentunya sangat mendukung kebutuhan energi dalam negeri.

Mengingat kontribusi yang besar terhadap pasokan energi, perpanjangan kerja sama ini sangat diharapkan dapat memperkuat kestabilan sektor migas Indonesia. Selain itu, hal ini juga membuka peluang bagi pengembangan lebih lanjut, baik dalam hal teknologi maupun infrastruktur energi, yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia untuk mencapai ketahanan energi yang lebih baik di masa depan.

Kolaborasi Indonesia dan AS dalam Sektor Energi

Selain pembahasan tentang ExxonMobil, agenda kunjungan ke AS juga melibatkan pembicaraan tentang berbagai peluang kerja sama di sektor energi antara kedua negara. 

Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Washington D.C., Presiden Prabowo dan Menteri Bahlil menekankan pentingnya kemitraan yang saling menguntungkan, yang tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia dan transfer teknologi.

Bahlil mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama dari kunjungan ini adalah membangun hubungan yang lebih erat dalam hal investasi energi dan teknologi. 

"Prinsipnya adalah kemitraan yang saling menguntungkan, dengan tetap berpijak pada kepentingan nasional Indonesia," ujar Bahlil.

Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk memperkuat sektor energi dengan menggandeng negara-negara maju seperti AS, yang memiliki pengalaman dan teknologi canggih dalam bidang tersebut.

Pada kesempatan ini, Presiden Prabowo juga dijadwalkan untuk menandatangani perjanjian bilateral yang disebut Agreement on Reciprocal Trade (ART), yang mencakup komitmen Indonesia untuk membeli produk energi AS senilai sekitar Rp 250 triliun atau setara dengan 15 miliar dollar AS. Produk energi yang dimaksud antara lain meliputi liquefied petroleum gas (LPG), minyak mentah, dan bahan bakar minyak (BBM).

Harapan Untuk Masa Depan Kerja Sama Energi

Dengan perjanjian yang ditandatangani, diharapkan hubungan antara Indonesia dan AS dalam sektor energi akan semakin kuat. Kerja sama yang terjalin antara kedua negara diharapkan tidak hanya meningkatkan pasokan energi nasional, tetapi juga mempercepat transisi Indonesia menuju ketahanan energi yang lebih berkelanjutan.

Bahlil dan Prabowo tentu berharap bahwa kolaborasi ini tidak hanya membawa manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga menciptakan peluang untuk pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas manusia yang dibutuhkan untuk mengelola sumber daya energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. 

Kunjungan ini, dengan segala komitmen yang dihasilkan, menjadi simbol kuat dari upaya Indonesia untuk memperkokoh hubungan diplomatiknya dengan negara-negara besar seperti AS, sekaligus mendukung visi Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi yang solid di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index